Home » Artikel, Download, Ebook Gratis, Makalah Gratis, News, Pendidikan, Tips Triks » Hubungan Kompetensi Profesional Guru dan Motivasi Siswa dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Terhadap Hasil Studi Siswa

Hubungan Kompetensi Profesional Guru dan Motivasi Siswa dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Terhadap Hasil Studi Siswa

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kondisi kerja saat ini pada bidang pendidikan masih sulit ditemukan seorang guru yang benar-benar mengajar sesuai dengan latar belakang pendidikan yang mereka tempuh saat kuliah, di lapangan banyak di antara guru mengajarkan mata pelajaran yang tidak sesuai dengan kualifikasi pendidikan dan latar belakang pendidikan yang dimilikinya. Guru profesional seharusnya memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogis, kognitif, personaliti, dan sosial. Oleh karena itu, selain terampil mengajar, seorang guru juga memiliki pengetahuan yang luas, bijak, dan dapat bersosialisasi dengan baik.

Setelah terpenuhinya kompetensi dalam profesionalisme seorang guru, tugas seorang guru juga mencakup sebagai motivator terhadap siswa-siswanya. Dalam belajar sangat diperlukan adanya motivasi. Hasil belajar akan menjadi optimal, jka ada motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan makin berhasil pula pelajaran itu. Motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi para siswa.

B. Identifikasi Masalah

Adapun yang menjadi permasalahan dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa, adalah :

  1. Sejauh mana latar belakang guru menmpengaruhi tingkat profesionalitas dalam mengajar.
  2. Sejauh mana kompetensi yang dibutuhkan oleh seorang guru dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa.
  3. Sejauh mana tugas pendidik dalam hal meningkatkan hasil belajar siswa.
  4. Sejauh mana cara yang dipakai oleh guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa.

C. Pembatasan Masalah

Maka lewat Identifikasi masalah diatas, adapun batasan masalah yang akan di kaji lebih jauh dalam karya tulis ini adalah:

  1. Apakah tingkat kompetensi guru mempengaruhi motivasi belajar murid.
  2. Sejauh mana tingkat kompetensi profesionalisme guru mempengaruhi motivasi belajar siswa.
  3. Bagaimana cara yang efektif untuk memotivasi siswa dalam meningkatkan hasil belajar.

D.Rumusan Masalah

Banyaknya guru sebagai tenaga pendidik kurang profesional dan kompeten terhadap dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya, sehingga mempengaruhi mutu keluaran peserta didik dan kurang optimalnya pencapaian tujuan pendidikan.

E.Tujuan

Makalah ini bertujuan untuk mengetahui tugas dan tanggung sebagai guru, prinsip-prinsip yang dimiliki oleh seorang guru sehingga guru sebagai pendidik sehingga dapat lebih profesional dan kompeten dalam menjalankan profesinya, untuk dapat melahirkan keluaran pendidikan yang bermutu.

F.Manfaat

Sebuah penulisan dipandang bermakna apabila hasil tulisannya bermanfaat, baik secara teoritis maupun praktis.

a.    Secara Teoritis
Penulisan ini akan menambah wawasan dan pengetahuan tentang pentingnya kompetensi yang harus dimiliki seorang guru sebagai tenaga profesional serta motivasi-motiasi yang diberikan kepada siswa yang nantinya berpengaruh pada hasil studi belajar siswa.

b.    Secara Praktis
Bagi penulis, sebagai upaya melatih diri agar dapat menerapkan informasi berupa data dan teorinya, serta membiasakan diri dalam penulisan-penulisan berikutnya.

G.  Landasan Teori

Terkait dengan apakah kompetensi guru mampu memotivasi siswa dalam meningkatkan hasil belajar, maka lewat sebuah analisa hasil wawancara didapatkan bahwa, kompetensi guru yang dimaksud terkait dengan baik itu berupa kemampuan guru untuk menyampaikan materi secara baik.

H.  kajian Teori
1. Kompetensi
Kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berfkir dan bertndak.
McAhsan (1981: 45) mengemukakan bahwa kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari diriny, sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kogitif, afektif, dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya.
Finch dan Crunkilton (1979: 222) mengartikan kompetensi sebagai penguasaan terhadap suatu tugas, keterampilan, sikap dan apresiasi yang diperlukan sebagai penunjang keberhasilan.
Kompetensi yang harus dikuasai peserta didik perlu dinyatakan sedemikian rupa agar dapat dinilai, sebagai wujud hasil belajar peserta didik yang mengacu pada pengalaman langsung. Peserta didik perlu mengetahui tujuan belajar, dan tingkat-tingkat penguasaan yang akan digunakan sebagai kriteria pencapaian secara eksplisit, dikembangkan berdasarkan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan, dan memiliki kontribusi terhadap kompetensi-kompetensi yang sedang dipelajar. Penilaian terhadap pencapaian kompetensi perlu dilakukan secara objektif, berdasarkan kinerja peserta didik, dengan bukti penguasaan mereka terhadap pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap sebagai hasil belajar.
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, kompetensi berarti (kewenangan) kekuasaan untuk menentukan atau memutuskan sesuatu hal. Pengertian dasar kompetensi yakni kemampuan atau kecakapan.
Kompetensi menurut Abdul Majid (2005) adalah seperangkat tindakan inteligen penuh tanggung jawab yang harus dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu melaksanakan tugas-tugas dalam bidang pekerjaan tertentu.
Kompetensi guru merupakan kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggumg jawab dan layak. Kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru akan menunjukkan kualitas guru dalam mengajar. Kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan dan profesional dalam menjalankan fungsinya sebagai guru. Artinya guru bukan saja harus pintar, tetapi juga harus pandai mentransfer ilmunya kepada peserta didik.

Menurut Muhibbin Syah (2004), ada sepuluh kompetensi dasar yang harus dimiliki guru dalam upaya penungkatan keberhasilan belajar mengajar, yaitu:
1.    Menguasai bahan

  • Menguasi bahan bidang studi dalam kurikulum sekolah
  • Menguasai bahan pendalaman/aplkasi bidang studi

2.    Mengelola program belajar mengajar

  • Merumuskan tujuan instruksional
  • Mengenal dan dapat menggunakan metode mengajar
  • memilih dan menyusun prosedur instruksional yang tepat
  • Melaksanakan program belajar mengajar
  • Mengenal kemampuan anak didik
  • Merencanakan dan melaksanakan pengajaran remedial

3.    Mengelola kelas
a. Mengatur tata ruang kelas untuk pengajaran
b. Menciptakan iklim belajar mengajar yang serasi

1.    Menggunakan media atau sumber belajar

  • Mengenal, memilih dan menggunakan media
  • Membuat alat-alat bantu pelajaran sederhana
  • Menggunakan dan mengelola laboratorium dalam rangka proses belajar mengajar
  • Mengembangkan laboratorium
  • Menggunakan perpustakaan dalam proses belajar mengajar
  • Menggunakan micro-teaching unit dalam program pengalaman lapangan

2.    Menguasai landasan-landasan kependidikan
3.    Mengelola interaksi belajar mengajar
4.    Menilai prestasi siswa untuk pendidikan dan pengajaran
5.    Mengenal fungsi dan program pelayanan bimbingan dan penyuluhan

  • Mengenal fungsi dan program pelayanan bimbingan konseling di sekolah
  • Menyelenggarakan program layanan dan bimbingan di sekolah

6.    Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah
7.    Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil pendidikan guna keperluan pengajaran.
Asian Institute for Teacher Educators dalam Mohamad Ali (1989), mengemukakan tentang kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru. Ada tiga macam kompetensi guru, yaitu:
a. Kompetensi pribadi, berisi kemampuan menampilkan mengenai:

  • Pengetahuan tentang adat istiadat (baik sosial maupun agama)
  • Pengetahuan tentang budaya dan tradisi
  • Pengetahuan tentang inti demokrasi
  • Pengetahuan tentang estetika
  • Apresiasi dan kesadaran sosial
  • Sikap yang benar terhadap pengetahuan dan pekerjaan
  • Setia kepada harkat dan martabat manusia

b.    Kompetensi mata pelajaran, yakni mempunyai pengetahuan yang memadai tentang mata pelajaran yang dipegangnya.
c.    Kompetensi profesional, mencakup kemampuan dalam hal:

  • Mengerti dan dapat menerapkan landasan pendidikan baik filosofis, psikologis, dan sebagainya
  • Mengerti dan dapat menerapkan teori belajar sesuai dengan tingkat perkembangan dan perilaku anak
  • Mampu menangani mata pelajaran yang ditugaskan kepadanya
  • Mengerti dan dapat menerapkan metode mengajar yang sesuai
  • Dapat menggunakan berbagai alat pengajaran dan fasilitas belajar lain
  • Dapat mengorganisasi dan melaksanakan program pengajaran
  • Dapat mengevaluasi, dan
  • Dapat menumbuhkan kepribadian anak.

2.  Profesionalisme Guru

Istilah professional berasal dari profession, yang mengandung arti sama dengan occupation atau pekerjaan yang memerlukan keahlian yang diperoleh melalui pendidikan atau latihan khusus.
Berbicara soal kedudukan guru sebagai tenaga profesional, akan lebih tepat kalau diketahui terlebih dahulu mengenai maksud kata profesi. Pengertian profesi itu memiliki banyak konotasi, salah satu diantaranya tenaga kependidikan, termasuk guru. Secara umum profesi diartikan sebagai suatu pekerjaan yang memerlukan pendidikan lanjut didalam science dan teknologi yang digunakan sebagai perangkat dasar untuk diimplementasikan dalam berbagai kegiatan yang bermanfaat. Dalam aplikasnya, menyangkut aspek-aspek yang lebih bersifat mental daripada yang bersifat manual work. Pekerjaan profesional akan senantiasa menggunakan teknik dan prosedur yang berpijak pada landasan intelektual yag harus dpelajari secara sengaja,terencana dan kemudian dipergunakan demi kemaslahatan orang lain.

Kompetensi seorang guru sebagai tenaga profesional kependidikan, ditandai dengan serentetan diagnosis, rediagnosis, dan penyesuaian yang terus-menerus. Dalam hal ini disamping kecermatan untuk menentukan langkah, guru juga harus sabar, ulet dan ”telaten” serta tanggap terhadap setiap kondisi, sehingga di akhir pekerjaannya akan membuahkan suatu hasil yang memuaskan.
Sehubungan dengan profesionalisme seseorang, Wolmer dan Mills mengemukakan bahwa pekerjaan itu baru dikatakan sebagai profesi, apabila memenuhi kriteria atau ukuran-ukuran sebagai berikut:
1.    Memiliki spesialisasi dengan latar belakang teori yang luas, maksudnya:

  • memiliki pengetahuan umum yang luas
  • memiliki keahlian khusus yang mendalam

2.    Merupakan karier yang dibina secara organisatoris, maksudnya:

  • adanya keterikatan dalam suatu organisasi profesional
  • memiliki otonomi jabatan
  • memiliki kode etik jabatan
  • merupakan karya bakti seumur hidup

3.    Diakui masyarakat sebagai pekerjaan yang mempunyai status profesional, maksudnya:

  • memperoleh dukungan masyarakat
  • mendapat pengesahan dan perlindungan hukum
  • memiliki persyaratan kerja yang sehat
  • memiliki jaminan hidup yang layak.

Selanjutnya Westby dan Gibson, mengemukakan ciri-ciri keprofesian dibidang pendidikan sebagai berikut:

  1. Diakui oleh masyarakat dan layanan yang diberikan hanya dikerjakan oleh pekerja yang dikategorikan sebagai suatu profesi.
  2. Memiliki sekumpulan bidang ilmu pengetahuan sebagai landasan dari sejumlah teknik dan prosedur yang unik. Sebagai contoh misalnya profesi dibidang keguruan, misalnya harus mempelajari psikologi, metodil dan lain-lan.
  3. Diperlukan persiapan yang sengaja dan sistematis, sebelum orang itu dapat melaksanakan pekerjaan profesional.
  4. Memiliki mekanisme untuk menyaring sehingga orang yang berkompeten saja yang diperbolehkan bekerja.
  5. Memiliki organisasi profesional untuk meningkatkan layanan kepada masyarakat.

Bagi guru yang merupakan tenaga profesional dbidang kependidikan dalam kaitannya dengan accountability, bukan berarti tugasnya menjadi ringan, tetapi justru lebih berat dalam rangka memberikan layanan kepada masyarakat. Oleh karena itu, guru dituntut memiliki kualifikasi kemampuan yang lebih memadai. Secara garis besar ada tiga tingkatan kualifikasi profesional guru sebagai tenaga profesional kependidikan.

  1. Tingkatan capability personal, maksudnya guru diharapkan memiliki pengetahuan, kecakapan dan keterampilan serta sikap yang lebih mantap dan memadai sehingga mampu mengelola proses belajar-mengajar secara efektif.
  2. Guru sebagai inovator, yakni sebagai tenaga kependidikan yang memiliki komitmen terhadap upaya perubahan dan reformasi. Para guru diharapkan memiliki pengetahuan, kecakapan dan keterampilan serta sikap yang tepat terhadap pembaharuan dan sekaligus merupakan penyebar ide pembaharuan yang efektif.
  3. Guru sebagai developer, guru harus memiliki visi keguruan yang mantap dan luas perspektifnya.

Guru harus mampu dan mau melihat jauh kedepan dalam menjawab tantangan-tantangan yang dihadapi oleh sektor pendidikan sebagai suatu sistem.
Perlu ditegaskan bahwa selain faktor-faktor pengetahuan, kecakapan, keterampilan dan tanggap terhadap ide pembaharuan serta wawasan yang lebih luas sesuai dengan keprofesiannya, pada diri guru sebenarnya mash memerlukan persyaratan khusus yang bersifat mental. Persyaratan khusus ini adalah fakor yang menyebabkan seseorang itu merasa senang, karena merasa terpanggil hati nuraninya untuk menjadi seorang pendidik/guru. Oleh Waterink, faktor khusus itu disebut dengan istilah rouping atau ” panggilan hati nurani”. Rouping inilah yang merupakan dasar bagi seorang guru untuk melakukan kegiatannya.

Profesionalisme dalam pendidikan perlu dimaknai he does his job well. Artinya, guru haruslah orang yang memiliki insting pendidik, paling tidak mengerti dan memahami peserta didik. Guru harus menguasai secara mendalam minimal satu bidang keilmuan. Guru harus memiliki sikap integritas profesional. Dengan integritas barulah, sang guru menjadi teladan atau role model.

3. Motivasi

1. Pengertian motivasi
Motivasi berpangkal dari kata ‘motif’, yang dapat dartikan sebagai daya penggerak yang ada didalam diri seseorang untuk melakukan aktvitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Menurut Mc Donald motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan Mc Donald terdapat tiga elemen/ciri pokok dalam motivasi, yakni; motivasi mengawali terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya feeling, dan dirangsang karena adanya tujuan (Sardiman, 2004). Namun pada intinya motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.
Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak didalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan yang ada dapat tercapai.
Motivasi sendiri ada dua, yaitu:

  1. Motivasi Intrinsik, jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri.
  2. Motivasi Ekstrinsik, jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar.

2. Teori Tentang Motivasi
Menurut ahli ilmu jiwa, dijelaskan bahwa dalam motivasi itu ada suatu hierarki, maksudnya motivasi itu ada tingkatan-tingkatannya yakni dari bawah keatas. Dalam hal ni ada beberapa teori tentang motivasi yang selalu bergayut dengan soal kebutuhan, yaitu:

  • kebutuhan fisiologis
  • kebutuhan akan keamanan
  • kebutuhan akan cinta dan kasih
  • kebutuhan untuk mewujudkan diri sendiri

Di samping itu ada teori-teori lain yang perlu diketahui:
1. Teori Insting
Menurut teori ini tindakan setiap diri manusia diasumsikan seperti ringkah jenis binatang. Tindakan manusia dikatakan selalu berkaitan dengan insting atau pembawaan. Dalam memberi respons terhadap adanya kebutuhan seolah-olah tanpa dipelajari. Tokoh dari teori ini adalah Mc. Dougall

2. Teori Fisiologis
Menurut teori ini semua tindakan manusia itu berakar pada usaha memenuhi kepuasan dan kebutuhan organik atau kebutuhan untuk kepentngan fisik.

3. Teori Psikoanalitik
Teori ini mirip dengan teori insting, tetapi lebih ditekankan pada unsur-unsur kejiwaan yang ada pada diri manusia. Bahwa setiap tindakan manusia karena adanya unsur pribadi manusia yakni id dan ego. Tokoh dari teori ini adalah Freud.

3. Fungsi Motivasi
Oemar Hamalik (2002) menyebutkan bahwa ada tiga fungsi motivasi:

  1. Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepas energi. Motivasi dalam hal ini merupakan langkah penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
  2. Menentukan arah perbuatan yakni kearah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
  3. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.
  4. Dari beberapa Uraian diatas, nampak jelas bahwa motivasi berfungsi sebagai pendorong, pengarah, dan sekaligus sebagai penggerak perilaku seseorang untuk mencapai tujuan. Guru merupakan faktor yang penting untuk mengusahakan terlaksananya fungsi-fungsi tersebut dengan cara dan terutama memenuhi kebutuhan siswa. Motivasi juga berfungsi sebagai pencapaian prestasi.

Begitu juga dengan belajar sangat diperlukan adanya motivasi. Motivation is an essential condition of learning. Hasil belajar akan menjadi optimal, jika ada motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan makn berhasil pula pelajaran itu. Jadi motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi para siswa.

4. Macam-macam Motivasi
Berbicara tentang macam atau jenis motivasi dapat dilhat dari bebagai sudut pandang.
1.    Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya
a. Motif-motif bawaan
Yang dimaksud motif bawaan adalah motif yang dibawa sejak lahir, jadi motivasi itu ada tanpa dipelajari. Misalnya: dorongan untuk makan dan minum. Motif-motif ini seringkali disebut motf-motf yang disyaratkan secara biologis. Relevan dengan ini, maka Arden N. Frandsen memberi istilah jenis motif ini psiological drives.

b. Motif-motif yang dipelajari
Maksudnya motif-motif yang timbul karena dipelajari sebagai contoh: dorongan untuk belajar suatu cabang ilmu pengetahuan, dorongan untuk mengajar suatu di dalam masyarakat.

2.    Jenis motivasi menurut pembagian dari Woodworth dan Marquis

  • Motif atau kebutuhan organis, meliputi misalnya: kebutuhan untuk minum, makan, bernafas, berbuat dan kebutuhan untuk istirahat.
  • Motif-motif darurat. Yang termasuk dalam jenis motif ini antara lan: dorongan untuk menyelamatkan diri, dorongan untuk membalas, untuk berusaha, untuk memburu. Motivasi jenis ini timbul karena adanya rangsangan dari luar.
  • Motif-motif objektif. Dalam hal ini menyangkut kebutuhan untuk melakukan eksplorasi, melakukan manipulasi, untuk menaruh minat. Motif ini muncul karena dorongan untuk dapat menghadapi dunia luar secara efektif

3.    Motivasi jasmaniah dan rohaniah
Ada beberapa ahli yang menggolongkan jenis motivasi itu menjadi dua jenis yakni motivasi jasmaniah di motivasi rohaniah. Yang termasuk motivasi jasmani seperti misalnya reflek,insting, otomatis, nafsu. Sedangkan yang termasuk motivasi rohaniah adalah kemauan.

4.    Motivasi intrinsik dan ekstrinsik
a. Motivasi intrinsik.
Yang dimaksud dengan motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.
Motivasi intrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang didalamnya aktvitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan suatu dorongan dari dalam diri dan secara mutlak berkait dengan aktvitas belajarnya.

b. Motivasi ekstrinsik
Adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya peragsang dari luar. Motivasi ekstrnsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang didalamnya aktvitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan dorongan dari luar yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktvitas belajarnya.

5. Bentuk-bentuk Motivasi di Sekolah
Beberapa bentuk dan cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar disekolah.

  1. Memberi angka
  2. Hadiah
  3. Persaingan/kompetisi
  4. Ego-involvement
  5. Memberi ulangan
  6. Mengetahui hasil
  7. Pujian
  8. Hukuman
  9. Hasrat untuk belajar
  10. Minat
  11. Tujuan yang diakui.

6. Strategi menumbuhkan motivasi
Ada beberapa strategi untuk menumbuhkan motivasi belajar  siswa adalah yakni:
1. Menjelaskan tujuan belajar kepeserta didik
Pada permulaan belajar mengajar seorang guru harus menjelaskan tujuan yang akan dicapainya kepada siswa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam melaksanakan kegiatan belajar.

2. Hadiah
Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.

3. Saingan atau kompetisi
Guru berusaha mengadakan persangan di antara siswa-siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, dan berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.

4.     Pujian
Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun.

5. Hukuman
Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.

6. Membangkitkan dorongan kepada peserta didik untuk belajar
Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal pada peserta didik.
7. Membentuk kebiasaan belajar yang baik.
8. Membantu kesulitan belajar peserta didik, baik secara individual maupun komunal (kelompok).
9. Menggunakan metode yang bervariasi.
10. Menggunakan media yang baik serta harus sesuai dengan tujuan pembelajaran.

4. Hasil Belajar

1. Indikator keberhasilan belajar mengajar
Keberhasilan atau kegagalan dalam proses belajar mengajar merupakan sebuah ukuran atas proses pembelajaran. Apabila merujuk pada rumusan operasional keberhasilan belajar, maka belajar dikatakan berhasil apabila diikuti ciri-ciri:
-    Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individu maupun kelompok

  • Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran khusus (TPK) telah dicapai oleh siswa baik secara individual maupun kelompok.
  • Terjadinya proses pemahaman materi yang secara sekuensial (sequential) mengantarkan materi tahap berikutnya.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar
Keberhasilan belajar bukanlah yang berdiri sendiri melainkan banyak yang dipengaruhi oleh faktor- faktor lainnya. Berbagai faktor dimaksud diantaranya adalah tujuan, guru, anak didik, kegiatan pengajaran, dan evaluasi.
I. Kerangka Pemikiran

Pendidikan yang memiliki kualitas tinggi berarti keluaran pendidikan mempunyai nilai bagi masyarakat yang memerlukan pendidikan itu. Kualitas disini adalah keluaran pendidikan yang dikaitkan dengan kegunaan bagi masyarakat. Output pendidikan merupakan kinerja sekolah yaitu prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses pendidikan di sekolah. Kinerja sekolah dapat diukur dari efektivitas, produktivitas, efisiensi, kualitas kehidupan kerja dan moral kerja.
Kualitas pendidikan dipengaruhi oleh penyempurnaan sistemik terhadap seluruh komponen pendidikan seperti peningkatan kualitas dan  pemertaan penyebaran guru, kurikulum yang disempurnakan, sumber belajar, sarana dan parsarana yang memadai, iklim pembelajaran yang kondusif serta didukung kebijakan pemerintah baik di pusat maupun di daerah.

Kompetensi profesional guru menjadi faktor yang sangat menunjang peningkatan kualitas sekolah. Salah satu tugas guru adalah mengajar. Setiap guru memiliki kompetensi mengajar. Guru memiliki kompetensi mengajar, jika guru memiliki pemahaman dan penerapan secara teknis mengenai berbagai metode belajar mengajar serta hubungannya dengan belajar. Kompetensi profesional guru akan membawa guru dapat memilih cara yang terbaik yang dapat dilakukan supaya kegiatan pembelajaran dapat berjalan baik dan meningkatkan potensi siswa.  Guru merupakan komponen merupakan komponen yang paling berpengaruh terhadap terciptanya proses dan hasil pendidikan yang berkualitas.  Oleh karena itu, upaya perbaikan apapun yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tidak akan memberikan sumbangan yang signifikan tanpa didukung oleh guru yang profesional dan berkualitas..
.  Peningkatan efisiensi diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumber daya yang ada, partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi.  Peningkatan mutu diperoleh melalui partisipasi orang tua, kelenturan pengelolaan sekolah, peningkatan profesionalisme guru, adanya hadiah dan hukuman sebagai kontrol serta hal lain yang dapat menumbuhkembangkan suasana kondusif. Pemerataan pendidikan tampak pada tumbuhnya partisipasi masyarakat terutama yang mampu dan peduli, sementara yang kurang mampu akan menjadik tanggung jawab pemerintah.

J. Metode

Menggunakan metode diskriptif yang sesuai dengan penjelasan dan pemaparan dalam buku dan internet yang merupakan landasan teori  dalam makalah ini.

Daftar Pustaka

Dr. E. Mulyasa, M.pd. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Prof. Pupuh Fathurrohman; M. Sobry Sutikno. 2007. Strategi Belajar Mengajar. Bandung : PT Refika Aditama.
Sardiman AM. 2004. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : PT Raja Grafindo.

http://beta.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=9232

http://www.infoskripsi.com/Article/Profesionalisme-Guru.html

Keyword yang dicari:

yhs-0001 (67),urgensitas kesabaran guru terhadap keberhasilan anak didik (11),latar belakang pendidikan dengan mata pelajaran tidak sesuai (2)
« | »

0 Komentar "Hubungan Kompetensi Profesional Guru dan Motivasi Siswa dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Terhadap Hasil Studi Siswa"



Halo, Silahkan Tinggalkan Komentarnya