Penyebab & Faktor pemicu Hipertensi atau Tekanan Darah Tinggi

Category : Kesehatan
Hipertensi

Hipertensi

Penyebab Hipertensi atau Tekanan Darah Tinggi – Hipertensi, berdasar penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2 golongan besar.

  • Hipertensi esensial (hipertensi primer), yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya.
  • Hipertensi sekunder, yaitu hipertensi yang disebabkan oleh “penyakit lain.

Hipertensi primer terdapat pada lebih dari 90% penderita hipertensi, sedangkan 10% sisanya disebabkan oleh hipertensi sekunder. Oleh sebab itu, perhatian dan penelitian lebih banyak ditujukan kepada hipertensi primer.

Epidemiologi Hipertensi

Hipertensi adalah suatu gangguan pada sistem peredaran darah, yang cukup banyak mengganggu kesehatan masyarakat. Pada umumnya, terjadi pada manusia yang sudah berusia setengah umur (usia lebih dari 40 tahun). Namun, banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya menderita hipertensi. Hal ini disebabkan gejalanya tidak nyata dan pada stadium awal belum menimbulkan gangguan yang serius pada kesehatannya.

Di Amerika, data statistik pada tahun 1980 menunjukkan bahwa sekitar 20% penduduk menderita hipertensi. Di Indonesia belum ada penelitian nasional yang menyeluruh, namun diperkirakan angka statistik di Indonesia tidak jauh berbeda dengan Amerika.

Boedi Darmoyo dalam penelitiannya, menemukan bahwa antara 1,8% – 28,6% penduduk dewasa adalah penderita hipertensi. Angka 1,8% berasal dari penelitian di Desa Kalirejo, Jawa Tengah, sedangkan nilai 28,6% dilaporkan dari hasil penelitian di Sukabumi, Jawa Barat (1990).

Penyebab Hipertensi

Berhubung lebih dari 90% penderita hipertensi digolongkan atau disebabkan oleh hipertensi primer, maka secara umum, yang disebut hipertensi adalah hipertensi primer.

Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya, data-data penelitian telah menemukan beberapa, faktor yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah faktor keturunan, ciri perseorangan, dan kebiasaan hidup.

  1. Faktor Keturunan – Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi.
  2. Ciri Perseorangan -Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah umur, jenis kelamin, dan ras. Umur yang bertambah akan menyebabkan terjadinya kenaikan tekanan darah. Tekanan darah pria umumnya lebih tinggi dibandingkan wanita. Juga, statistik di Amerika menunjukkan prevalensi hipertensi pada orang kulit hitam hampir dua kali lebih banyak dibandingkan dengan orang kulit putih.
  3. Kebiasaan Hidup -Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah konsumsi garam yang tinggi, kegemukan atau makan berlebihan, stres dan pengaruh lain.

Faktor-faktor tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

  1. Konsumsi garam yang tinggi. – Dari data statistik ternyata dapat diketahui bahwa hipertensi jarang diderita oleh suku bangsa atau penduduk dengan kon¬sumsi garam yang rendah. Dunia kedokteran juga telah membuktikan bahwa pembatasan konsumsi garam dapat menurunkan tekanan darah; dan pengeluaran garam (natrium) oleh obat diuretik (pelancar kencing) akan menurunkan tekanan darah lebih lanjut.
  2. Kegemukan atau makan berlebihan. – Dari penelitian kesehatan yang banyak dilaksanakan, terbukti bahwa ada hubungan antara kegemukan (obesitas) dan hipertensi. Meskipun mekanisme bagaimana kegemukan menimbulkan hipertensi belum jelas, tetapi sudah terbukti penurunan berat badan dapat menurunkan tekanan darah.
  3. Stres atau ketegangan jiwa. – Sudah lama diketahui bahwa stres atau ketegangan jiwa (rasa tertekan, murung, rasa marah, dendam, rasa takut, rasa bersalah) dapat merangsang kelenjar anak ginjal melepaskan hormon adrenalin dan memacu jantung berdenyut lebih cepat serta lebih kuat, sehingga tekanan darah akan meningkat. Jika stres berlangsung cukup lama, tubuh akan berusaha mengadakan penyesuaian sehingga timbul kelainan organis atau perubahan patologis (Dr. Hans Selye: General Adaptation Syn¬drome, 1957). Gejala yang muncul dapat berupa hipertensi atau penyakit maag. Diperkirakan, prevalensi atau kejadian hiper¬tensi pada orang kulit hitam di Amerika Serikat yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang kulit putih disebabkan stres atau dan rasa tidak puas orang kulit hitam pada nasib mereka.
  4. Pengaruh lain. – Pengaruh lain yang dapat menyebabkan naiknya tekanan darah adalah sebagai berikut.
  • Merokok, karena merangsang sistem adrenergik dan meningkatkan tekanan darah.
  • Minum alkohol
  • Minum obat-obatan, misal, Ephedrin, Prednison, Epinefrin.

Usaha Pencegahan Hipertensi

Pencegahan lebih baik daripada pengobatan, demikian juga terhadap hipertensi. Pada umumnya, orang akan berusaha mengenali hipertensi jika dirinya atau keluarganya sakit keras atau meninggal dunia akibat hipertensi.

Sebenarnya sangat sederhana dan tidak memerlukan biaya, hanya diperlukan disiplin dan ketekunan menjalankan aturan hidup sehat, sabar, dan ikhlas (Jawa : nrimo) dalam mengendalikan perasaan dan keinginan atau ambisi. Di samping berusaha untuk memperoleh kemajuan, selalu sadar atau mawas diri untuk ikhlas menerima kegagalan atau kesulitan.

Usaha pencegahan juga bermanfaat bagi penderita hipertensi agar penyakitnya tidak menjadi lebih parah, tentunya harus disertai pemakaian obat-obatan yang ditentukan oleh dokter.

Pengobatan Hipertensi

Hipertensi atau tekanan darah tinggi sebetulnya bukan suatu penyakit, tetapi hanya merupakan suatu kelainan dengan gejala gangguan pada mekanisme regulasi tekanan darah yang timbul. Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah saja, tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi agar penderita dapat bertambah kuat. Pengobatan hipertensi umumnya perlu dilakukan seumur hidup penderita.

Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli Hipertensi (Joint National Committe on Detection, Evalua¬tion and Teatment of High Blood Pressure, USA, 1988) menyimpulkan bahwa obat diuretik, penyekat beta, antagonis kalsium, atau penghambat ACE, dapat digunakan sebagai obat tunggal pertama dengan memperhatikan keadaan penderita dan penyakit lain yang ada pada penderita.

Bila tekanan darah tidak dapat diturunkan dalam satu bulan, dosis obat dapat disesuaikan sampai dosis maksimal atau menambahkan obat golongan lain atau mengganti obat pertama dengan obat golongan lain. Sasaran penurunan tekanan darah adalah kurang dari 140/90 dengan efek samping minimal. penurunan dosis obat dapat dilakukan pada golongan hipertensi ringan yang sudah terkontrol dengan baik selama satu tahun.

Jenis obat anti-hipertensi yang sering digunakan adalah sebagai berikut.

  1. Diuretika – Diuretika adalah obat yang memperbanyak kencing, mempertinggi pengeluaran garam (NaCI). Dengan turunnya kadar Na+, maka tekanan darah akan turun, dan efek hipotensifnya kurang kuat. Obat yang sering digunakan adalah obat yang daya kerjanya panjang sehingga dapat digunakan dosis tunggal, diutamakan diuretika yang hemat kalium. Obat yang banyak beredar adalah Spironolactone, HCT, Chlortalidone, dan Indopanide.
  2. Alfa-blocker – Alfa-blocker adalah obat yang dapat memblokir reseptor alfa dan menyebabkan vasodilatasi periferserta turunnya tekanan darah. Karena efek hipotensinya ringan sedangkan efek sampingnya agak kuat, misalnya hipotensi ortostatik dan tachicardia, maka jarang digunakan. Obat yang termasuk dalam jenis Alfa-blocker adalah Prazosin dan Terazosin.
  3. Beta -blocker – Mekanisme kerja Beta-blocker belum diketahui dengan pasti. Di duga kerjanya berdasarkan   beta blokase pada jantung sehingga mengurangi daya dan frekuensi kontraksi jantung. Dengan demikian, tekanan darah akan menurun dan daya hipotensinya baik. Obat yang terkenal dari jenis Beta-blocker adalah Propa-nolol, Atenolol, Pindolol, dan sebagainya.
  4. Obat yang Bekerja Sentral – Obat yang bekerja sentral dapat mengurangi pelepasan noradrenalin sehingga menurunkan aktivitas saraf adrenergik perifef dan turunnya tekanan darah. Penggunaan obat ini perlu memperhatikan efek hipotensi ortostatik. Obat yang termasuk dalam jenis ini adalah Clonidine, Guan-facine, dan Metildopa.
  5. Vasodilator Obat Vasodilator dapat langsung mengembangkan dinding arteriole sehingga daya tahan pembuluh perifer berkurang dan tekanan darah menurun. Obat yang termasuk dalam jenis Vasodilator adalah Hidra-lazine dan Ecarazine.
  6. Antagonis Kalsium – Mekanisme obat Antagonis Kalsium adalah menghambat pemasukan ion kalsium ke dalam sel otot polos pembuluh dengan efek vasodilatasi dan turunnya tekanan darah. Obat jenis Antagonis Kalsium yang terkenal adalah Nifedipin dan Verapamil.
  7. Penghambat ACE – Obat Penghambat ACE ini menurunkan tekanan darah dengan cara menghambat Angiotensin converting enzyme yang berdaya vasokonstriksi kuat. Obat jenis PenghambatACE yang populer adalah Captopril (Capoten) dan Enalapril.
Avatar for bangfad

Author: 

Bangfad - Penulis sekaligus pengelola website menyediakan Jasa Review Produk Lokal maupun produk luar dengan harga yang sangat terjangkau, kami juga menyediakan jasa pembuatan website berbasis opensource yang tentunya lebih ekonomis namun dengan performa profesional dengan harga mulai dari Rp.300.000,-

Related Posts

One Response

  1. Avatar for bangfad

    Fatma Love Forover22-01-2013 at 01:54Reply

    berapa sich jumlah penderita hipertensi menurut WHO.

Leave a Reply