SEO paling KEREN

Mengungkap Fakta Terpendam

Pengertian Pancasila Sebagai Sistem Filsafat

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Sejak awal filsafat mengusahakan pemikiran yang benar. Namun tidak memisahkannya dari usaha untuk memperoleh bahan pertimbangan serta menghasilkan keputusan bertindak yang tepat. Maka filsafat sejauh mungkin berusaha memperoleh kebenaran yang sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Agar hasilnya dapat dipakai sebagai dasar pertimbangan secara meyakinkan dan selanjutnya dalam pengambilan keputusan agar dapat bertindak secara tepat. Dengan demikian, disamping mengusahakan kebenaran, filsafat juga mengusahakan kebijaksanaan. Karena kebenaran tampaknya juga diusahakan oleh ilmu pengetahuan lain pada umumnya, maka kekhususan filsafat terletak pada usahanya untuk memperoleh kebijaksanaan.

B.    Tujuan  Penulisan

  1. Agar dapat menikmati dan memfungsikan karya-karya filsafat dengan baik penerapan filsafat dalam kegiatan hidup manusia yang cenderung untuk menentukan arah hidupnya. Sehingga diharapkan lewat tulisan ini kita dapat memahami kegunaan filsafat bagi kehidupan, khususnya usaha mencari kebijaksanaan hidup.
  2. Supaya mahasiswa kebidanan mengetahui arti pancasila sebagai sistem filsafat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
  3. Untuk memenuhi tugas mata kuliah PPKN.


BAB II
PEMBAHASAN

PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT

A.    Pengertian Filsafat
Kata filsafat berasal dari Yunani, yang merupakan kata majemuk dari rangkaian istilah : Philan yang berarti “Mencintai” dan sophia yang berarti “Kebijaksanaan”. Sehingga menurut asal katanya filsafat (philo-sophia) berarti “Mencintai Kebijaksanaan” atau “Mencintai Hikmat / Pengetahuan”. Cinta dalam hal ini mempunyai arti yang seluas-luasnya yaitu ingin dan berusaha untuk mencapai yang diinginkan. Sedangkan kebijaksanaan lebih lanjut berarti “Pandai” tahu dengan mendalam dan seluas-luasnya baik secara teoritis sampai dengan keputusan untuk bertindak. Berfilsafat misalnya :

  1. Jikalau orang berpendapat bahwa dalam hidup ini materilah yang essensial dan mutlak, maka orang tersebut berfilsafat materialisme.
  2. Jikalau seseorang berpandangan bahwa kebenaran pengetahuan itu sumbernya rasio maka orang tersebut berfilsafat rasionalisme.
  3. Jikalau seseorang berpandangan bahwa dalam hidup ini yang terpenting adalah kenikmatan, kesenangan dan kepuasan lahiriah maka paham ini disebut hedonisme.
  4. Jikalau seseorang berpandangan bahwa dalam hidup masyarakat maupun negara yang terpenting adalah kebebasan individu, atau dengan lain perkataan bahwa manusia adalah sebagai makhluk individu yang bebas maka orang tersebut berpandangan individualisme, liberalisme.

Keseluruhan arti filsafat meliputi :
1.    Filsafat Sebagai Produk yaitu :

  • Filsafat sebagai jenis pengetahuan, ilmu, konsep, pemikiran-pemikiran dari para filsuf pada zaman dahulu yang lazimnya merupakan suatu aliran atau sistem filsafat tertentu.
  • Filsafat sebagai suatu jenis problema yang dihadapi oleh manusia sebagai hasil dari aktivitas berfilsafat.

2.    Filsafat Sebagai Suatu Proses
Filsafat di artikan dalam bentuk aktivitas berfilsafat, dalam proses pemecahan suatu permasalahan dengan menggunakan suatu cara dan metode tertentu yang sesuai dengan objeknya.
Dalam hal ini merupakan suatu aktivitas berfilsafat, suatu proses yang dinamis dengan menggunakan suatu metode tersendiri.
Cabang-cabang filsafat yang pokok adalah sebagai berikut :
1.    Metafisika
Yang membahas tentang hal-hal yang bereksistensi dibalik fisis, meliputi : otologi, kosmologi, dan antropologi.
2.    Epistemologi
Yang berkaitan dengan persoalan hakikat pengetahuan.
3.    Metodologi
Yang berkaitan dengan persoalan hakikat metode dalam ilmu pengetahuan.
4.    Logika
Yang berkaitan dengan persoalan filsafat berfikir, yaitu rumus-rumus dan dalil-dalil berfikir yang benar.
5.    Etika
Yang berkaitan dengan moralitas, tingkah laku manusia.
6.    Estetika
Yang berkaitan dengan persoalan hakikat keindahan.
Pancasila merupakan dasar negara, alat / media untuk mencapai tujuan yaitu cinta kebijaksanaan, dengan alasan :

  1. Karena pancasila mempunyai kebijaksanaan.
  2. Karena di dalam pancasila terdapat nilai-nilai kehidupan.
  3. Karena pancasila sebagai pedoman hidup.
  4. Karena pancasila sebagai asas peradaban.

B.    Rumusan Kesamaan Sila Pancasila Sebagai Suatu Sistem.
Pancasila yang terdiri atas sila-sila yang hakikatnya merupakan sistem filsafat. Pengertian sistem adalah suatu kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan, saling berkerja sama untuk satu tujuan tertentu dan secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang utuh.
Sistem memiliki ciri-ciri :

  • Suatu kesatuan bagian-bagian
  • Bagian-bagian tersebut mempunyai fungsi sendiri-sendiri.
  • Saling berhubungan dan saling bergantungan.
  • Keseluruhannya dengan maksud untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
  • Terjadi dalam suatu lingkungan yang kompleks.

Pancasila yang terdiri atas bagian-bagian yaitu sila-sila  pancasila setiap sila pada hakikatnya merupakan suatu asas sendiri, fungsi sendiri-sendiri namun secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang sistematis.


C.    Kesatuan Sila-Sila Pancasila Sebagai Suatu Sistem Filsafat
Isi sila-sila pancasila pada hakekatnya merupakan filsafat kesatuan dasar filsafat indonesia terdiri atas lima sila yang masing-masing merupakan suatu asas peradaban.
Namun demikian sila-sila pancasila ini merupakan suatu kesatuan dan keutuhan dari pancasila.
Maka pancasila merupakan suatu kesatuan yang majemuk tunggal. Konsekuensinya setiap sila tidak dapat berdiri sendiri terlepas dari sila-sila lainnya serta diantara sila satu dan lainnya tidak saling bertentangan.
Isi dari sila-sila pancasila yaitu harkat manusia :

  • Nonopluralis (yang memiliki unsur-unsur)
  • Susunan kodrat (jasmani dan rohani)
  • Sifat kodrat (individu makhluk sosial)
  • Kedudukan kodrat (sebagai pribadi berdiri sendiri).

D.    Nilai-Nilai Yang Terkandung Didalam Pancasila
Menilai berarti menimbang, yaitu kegiatan manusia menghubungkan sesuatu, untuk selanjutnya mengambil keputusan-keputusan  nilai yang mengatakan berguna atau untuk tidak berguna, benar atau tidak benar, baik atau tidak baik religius atau tidak religius.
Dapat dikatakan mempunyai nilai apabila sesuatu itu berguna, benar atau tidak benar, indah atau nilai estetis, baik atau nilai moral / etis, religius / nilai agama.
Prof. Dr Mr. Natonagoro membagi nilai menjadi tiga :
1.    Nilai Material.
Yaitu segala sesuatu yang berguna bagi unsur manusia. Misal : Apabila kita bisa menyatakan bahwa itu baik / tidak baik, berguna / tidak berguna artinya dapat dikatakan mempunyai nilai.
2.    Nilai Vital (penting)
Yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan atau untuk aktivitas. Misal : Pakaian, makanan, rumah.
3.    Nilai Kerohanian
Yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia. Misal : Agama, ibadah.


Nilai kerohanian dibedakan 4 macam :

  • Nilai kebenaran / kenyataan yang bersumber pada unsur akal manusia (rasio, budi, cipta).
  • Nilai keindahan yang bersumber pada unsur rasa manusia. (gavol, persoalan, aetetis).
  • Nilai kebaikan atau nilai moral yang bersumber pada unsur kehendak / kemauan manusia (will, karsa, ethil).
  • Nilai religius.

Hubungan dengan filsafat nilai merupakan salah satu hasil pemikiran filsafat yang oleh pemikirannya dianggap sebagai hasil maksimal yang paling besar, paling bijaksana dan paling baik. Bagi manusia nilai dijadikan landasan, alasan atau motivasi dalam segala perbuatan.
Dalam bidang pelaksanaan nilai dijabarkan dalam bentuk kaidah atau ukuran sehingga merupakan suatu perintah / keharusan, anjuran atau harus merupakan larangan / tidak di inginkan.

E.    Nilai-Nilai Yang Terkandung Di Dalam Sila-Sila Pancasila
a.    Di dalam sila 1 berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa terkandung sila-sila religius :

  1. Keyakinan terhadap adanya Tuhan Yang Maha Esa dan sifat-sifatnya maha sempurna, yakin, maha kasih, maha kuasa, maha adil, maha bijaksana, dalam sifat yang suci.
  2. Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yakni menjalankan semua perintahnya dan menjauhi segala larangannya.
  3. Nilai sila 1 meliputi dan menjiwai sila-sila II, III, IV, dan V.

b.    Di dalam sila ke II yang berbunyi kemanusiaan yang adil dan beradab terkandung nilai-nilai kemanusiaan.

  1. Pengakuan terhadap adanya martabat manusia.
  2. Perlakuan yang adil terhadap sesama manusia.
  3. Pengertian manusia yang beradab yang memiliki daya cipta.
  4. Rasa, karsa, dan keyakinan sehingga jelas adanya perbedaan antara manusia dan hewan.
  5. Nilai sila II diliputi dan dijiwai sila I, II, III, IV, V.

c.    Di dalam sila III yang berbunyi persatuan Indonesia terkandung nilai persatuan bangsa antara lain :

  1. Persatuan Indonesia adalah persatuan bangsa yang mendiami wilayah Indonesia.
  2. Bangsa Indonesia adalah persatuan suku-suku bangsa yang mendiami wilayah Indonesia.
  3. Pengakuan terhadap ke “Bhinneka Tunggal Ika”.
  4. Nilai sila-sila ini meliputi dan menjiwai sila I, II, III, IV, V.

d.    Dalam sila V yang berbunyi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, terkandung nilai keadilan sosial antara lain :

  1. Perwujudan keadilan sosial dalam kehidupan sosial / kemasyarakatan meliputi seluruh rakyat Indonesia.
  2. Keadilan dalam kehidupan sosial terutama meliputi bidang-bidang POLEKSOSBUD HANKAMNAS.
  3. Cita-cita masyarakat adil, makmur, material, spiritual yang mereka bagi seluruh rakyat Indonesia.
  4. Keseimbangan antar hak dan kewajiban dan menghormati orang lain.

Arti Nilai-Nilai Yang Terkandung Didalam Sila-Sila Pancasila
1.    Sila ke I : Ketuhanan Yang Maha Esa.

  • Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaan dan ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  • Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
  • Mengembangkan sikap hormat-menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  • Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

2.    Sila ke II : Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab

  • Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
  • Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, kedudukan sosial, norma kulit.
  • Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
  • Mengembangkan sikap tenggang rasa dan tepo seliro.
  • Mengembangkan sikap tidak semena-mena  terhadap orang lain.
  • Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
  • Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
  • Berani membela kebenaran dan keadilan.
  • Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
  • Mengembangkan sikap hormat-menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.


3.    Sila ke III : Persatuan Indonesia

  • Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan.
  • Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.
  • Mengembangkan rasa cinta tanah air dan bangsa.
  • Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
  • Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
  • Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhineka Tunggal Ika.
  • Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

4.    Sila ke IV : Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan.

  • Sebagai warga negara dan warga masyarakat setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan dan kewajiban yang sama.
  • Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
  • Mengutamakan musyawarah dan mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
  • Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
  • Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.
  • Dengan etiket baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
  • Di dalam musyawarah di utamakan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi atau golongan.
  • Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
  • Keputusan yang diambil harus dipertanggung jawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan.
  • Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang di percayai untuk melaksanakan permusyawaratan.

5.    Sila ke V : Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

  • Mengembangkan perbuatan yang luhur, dan mencerminkan sikap dan suasana kekelurgaan dan kegotong royongan.
  • Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
  • Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
  • Menghormati hak orang lain.
  • Suka memberikan pertolongan kepada orng lain agar dapat berdiri sendiri.
  • Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.
  • Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat bertentangan dengan merugikan kepentingan umum.
  • Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kenegaraan dan kesejahteraan bersama.
  • Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan keadilan sosial.
  • Suka bekerja keras.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Filsafat diartikan sebagai usaha manusia mencari kebijaksanaan. Keinginan untuk mengusahakan kebenaran dan kebijaksanaan ternyata berakar dalam diri manusia dan hal itu merupakan suatu kecenderungan. Untuk itu diharapkan adanya kesadaran manusia dalam memahami filsafat di kehidupan berbangsa dan bernegara.
Filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan sejak awal telah mengusahakan pemecahan secara ilmiah mengenai masalah-masalah kehidupan manusia serta lingkungannya untuk mendapatkan jawaban yang benar dan tepat, serta selalu mengamalkan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan bermasyarakat.

B.    Saran
Diharapkan kepada kita semua agar bisa memahami arti penting filsafat dalam kehidupan kita dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA

Drs. Paulus Wahana, 1990, Filsafat pancasila, kanisius, Yogyakarta.

2 Responses

  1. angga wizaksana25-09-2011 at 11:17Reply

    mana penerapan malah nilai nilainya

  2. Niez-nieza Mutz-mutz16-04-2013 at 12:58Reply

    Rasa, karsa, dan keyakinan sehingga jelas adanya perbedaan antara manusia dan hewan.

Leave a Reply